Strategi & Eksekusi · 5 menit baca

OKR Gagal karena Alasan Ini (Bukan Targetnya)

Tim Redaksi Nawasena

OKR (Objectives and Key Results) sudah jadi standar di banyak perusahaan Indonesia, mulai dari startup sampai perusahaan tradisional yang lagi transformasi. Tapi ada satu fakta yang jarang dibicarakan: sebagian besar implementasi OKR gagal di tahun pertama.

Bukan karena OKR-nya jelek. Bukan karena targetnya terlalu ambisius. Tapi karena ada satu elemen yang hampir selalu terlewat: koneksi harian.

Kebanyakan perusahaan bikin OKR di awal kuartal dengan semangat tinggi. Rapat OKR seru. Target ditulis, key results dirumuskan, semua setuju. Lalu apa yang terjadi di minggu-minggu berikutnya?

OKR disimpan di spreadsheet. Atau di software OKR khusus yang cuma dibuka pas meeting review. Dan di antara itu, tim tetap kerja seperti biasa, ngerjain tugas harian yang seringkali gak jelas hubungannya dengan OKR yang udah ditetapkan.

Pas akhir kuartal, semua orang kaget: "Kok cuma 40%?" Padahal meeting review menunjukkan progres yang oke. Inilah OKR paradox.

Bayangkan ini: Seorang founder bercerita, "Kami rutin review OKR tiap 2 minggu. Tapi pas akhir kuartal, barulah sadar kalau 60% aktivitas tim gak ada hubungannya dengan OKR yang sudah ditetapkan." — skenario yang sering kami temui di lapangan.

Kenapa OKR Gagal di Eksekusi?

Dari pengamatan saya, ada tiga alasan utama kenapa OKR gagal dijalankan, dan ketiganya bukan masalah framework:

1. Gap antara OKR dan aktivitas harian

Ini masalah paling umum. Target sudah ditetapkan di level perusahaan, diturunkan ke divisi, lalu ke individu. Tapi setelah itu, gak ada mekanisme yang memastikan bahwa aktivitas harian setiap orang benar-benar aligned dengan OKR.

Staff kerja berdasarkan tugas yang dikasih atasan langsung, yang seringkali udah menyimpang dari OKR asli karena prioritas mendadak, request klien, atau firefighting. Minggu demi minggu, penyimpangan ini menumpuk.

2. Review OKR yang terlalu jarang

Review bulanan atau dua mingguan terlalu jarang kalau OKR-nya ambisius. Dalam dua minggu, banyak hal bisa berubah, dan tanpa ada sistem yang ngasih tahu lebih awal, kamu baru sadar pas review berikutnya bahwa semuanya udah meleset.

Ini bedanya dengan early warning system: kamu tahu ada yang salah di minggu pertama, bukan di minggu ketiga. Dan kamu bisa intervensi sebelum terlambat.

3. OKR jadi ceremonial

Ini yang paling berbahaya. Ketika OKR cuma jadi ritual formal, ditulis, disimpan, dilupakan, maka OKR kehilangan fungsinya sebagai alat navigasi. Tim jadi gak merasa terikat dengan OKR karena mereka gak lihat relevansinya dengan pekerjaan sehari-hari.

OKR harus hidup, bukan sekadar dokumen. Dan biar hidup, dia harus terhubung dengan apa yang orang lakukan setiap hari.

Yang Berbeda dari Nawasena

Nawasena bukan software OKR biasa. Kami memecahkan masalah di atas dengan cara yang berbeda:

Tujuan kami sederhana: membuat OKR benar-benar bekerja di konteks Indonesia, di mana operasional sehari-hari seringkali lebih dinamis dan chaotic daripada yang bisa ditangani spreadsheet atau template biasa.

OKR bukan satu-satunya cara

Satu catatan penting: Nawasena gak maksa OKR sebagai satu-satunya framework. Kalau tim kamu pake KPI, MBO, atau bahkan cuma target sederhana, itu juga bisa. Yang penting adalah adanya koneksi antara apa yang dikerjakan setiap hari dengan apa yang ingin dicapai.

Karena pada akhirnya, alat ukur apapun yang kamu pake, prinsipnya sama: kamu harus tahu lebih awal kalau ada yang meleset, sebelum semuanya terlambat.

OKR di tim kamu juga gitu?

Kalau cerita di atas relate, atau kamu punya perspektif berbeda, yuk diskusi. Gratis, santai, gak ada jualan.

Mulai Diskusi via WA